About

PROFIL MSAA UIN MALIKI MALANG.

A.    Dasar Pemikiran

Dalam pandangan Islam, mahasiswa merupakan komunitas yang terhormat dan terpuji (QS.al-Mujadalah :11), karena ia merupakan komunitas yang menjadi cikal bakal lahirnya ilmuan (ulama’) yang diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan penjelasan pada masyarakat dengan pengetahuannya itu (QS al-Taubah:122). Oleh karenanya, mahasiswa dianggap sebagai komunitas yang penting untuk menggerakkan masyarakat Islam menuju kekhalifahannya yang mampu membaca alam nyata sebagai sebuah keniscayaan ilahiyah (QS.Ali-Imran:191).

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang memandang keberhasilan pendidikan mahasiswa apabila mereka memiliki identitas sebagai seseorang yang mempunyai: (1) ilmu pengetahuan luas, (2) penglihatan yang tajam, (3) otak yang cerdas, (4) hati yang lembut dan (5) semangat tinggi karena Allah (Tarbiyatu Uli al-Albab: Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh, 2005:5)

Untuk mencapai keberhasilan tersebut, kegiatan kependidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang, baik kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler, diarahkan pada pemberdayaan potensi dan kegemaran mahasiswa untuk mencapai target profil lulusan yang meiliki cirri-ciri: (1) kemandirian, (2) siap berkompetisi dengan lulusan Perguruan Tinggi lain, (3) berwawasan akademik global, (4) kemampuan memimpin/sebagai penggerak umat, (5) bertanggung jawab dalam mengembangkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat, (6) berjiwa besar, dan (7) kemampuan menjadi tauladan bagi masyarakat sekelilingnya (Visi, Misi dan Tradisi UIN Maliki Malang, 2006:5).

Strategi tersebut mencakup pengembangan kelembagaan dan tercermin dalam: (1) kemampuan tenaga akademik yang handal dalam pemikiran, penelitian, dan berbagai aktivitas ilmiah-religius, (2) kemampuan tradisi akademik yang mendorong lahirnya kewibawaan akademik bagi seluruh civitas akademika, (3) kemampuan manajemen yang kokoh dan mampu menggerakkan seluruh potensi untuk mengembangkan kreatifitas warga kampus, (4) kemampuan antisipatif masa depan dan bersifat proaktif, (5) kemampuan pimpinan mengakomodasikan seluruh potensi yang dimiliki menjadi kekuatan penggerak lembaga secara menyeluruh, dan (6) kemampuan membangun biah Islamiyah yang mampu menumbuhsuburkan akhlakul karimah bagi setiap civitas akademika.

Untuk mewujudkan harapan terakhir, salah satunya adalah dibutuhkan keberadaan ma’had yang cera intensif mampu memberikan resonansi dalam mewujudkan lembaga pendidikan tinggi Islam yang ilmiah-religius, sekaligus sebagai bentuk penguatan terhadap pembentukan lulusan yang intelek-profesional. Hal ini benar karena tidak sedikit keberadaan ma’had telah mampu memberikan sumbangan besar bagi bangsa ini melalui alumninya dalam mengisi pembangunan manusia seutuhnya. Dengan demikian, keberadaan ma’had dalam komunitas perguruan tinggi Islam merupakan keniscayaan yang akan menjadi pilar penting dari banyunan akademik.

Saat ini, dilihat dari keberadannya, asrama mahasiswa di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi tiga model. Pertama, asrama mahasiswa sebagai tempat tinggal sebagian mahasiswa aktif dan berprestasi dengan indikasi nilai Indeks Prestasi (IP) tinggi. Kegiatan yang ada di asrama model ini ialah kegiatan yang diprogramkan oleh para penghuninya, sehingga melahirkan kesan terpisah dari cita-cita perguran tinggi. Kedua, asrama mahasiswa sebagai tempat tinggal pengurus atau aktivis intra dan ekstra kampus. Kegiatan yang ada di asrama model kedua ini banyak terkait dengan kegiatan rutinitas intra dan ekstra kampus tanpa ada control dari perguruan tinggi. Ketiga, asrama mahsiswa sebagai tempat tinggal sebagian mahasiswa yang memang berkeinginan berdomisili di asrama kampus, tanpa ada persyaratan tertentu. Oleh sebab itu kegiatan yang ada di asrma model ketiga inipun tidak terprogram secara baik dan terkadang kurang mendukung terhadap visi dan misi perguruan tinggi-nya.

Berdasarkan dari filosofi ini dan misi diatas, sekaligus dari hasil pembacaan terhadap model asrama mahasiswa yang ada selama ini, Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang memandang bahwa pendirian ma’had dirasa sangat urgen bagi upaya merealisasikan semua program kerjanya secara integral dan sistematis, sejalan dan sinergis dengan visi dan misi UIN Maliki Malang.

B. PENDIRIAN MA’HAD SUNAN AMPEL AL-‘ALY

Ide pendirian ma’had sunan ampel al-‘aly yang diperuntukkan bagi mahasiswa UIN Maliki Malang sudah lama dipikirkan, yaitu sejak kepemimpinan KH. Usman Manshur, tetapi hal tersebut belum dapat terealisasikan. Ide tersebut baru dapat direalisasikan pada masa kepemimpinan Prof.Dr.H.Imam Suprayogo, ketika itu masih menjabat sebagai ketua STAIN Malang.

Peletakan batu pertama pendirian bangunan ma’had dimulai pada Ahad Wage, 4 April 1999, oleh 9 (Sembilan) orang kyai berpengaruh di Jawa Timur yangdisaksikan oleh sejumlah orang kyai lainnya dari Kota dan Kabupaten Malang dan dalam jangka waktu satu tahun, 4 (empat) unit gedung yang terdiri dari 189 kamar (3 unit masing-masing 50 kamar dan 1 unit 39 kamar) dan 5 (lima) rumah pengasuh serta 1 (satu) rumah untuk mudir (direktur) ma’had telah berhasil diselesaikan.

Pada tanggal 26 Agustus 2000, ma’had mulai dioperasikan, ada sejumlah 1041 orang santri, 483 santri putra dan 558 santri putrid menghuni unit-unit hunian yang megah itu. Para santri tersebut adalah mereka yang terdaftar sebagai mahasiswa baru dari semua fakultas.

Dan pada tanggal 17 April 2001, Presiden RI KH.Abdurrahman Wahid berkenan hadir dan meresmikan penggunaan ke empat hunian ma’had, yang masing-masing diberi nama mabna (unit gedung) al-Ghazali, mabna Ibn Rusyd, mabna Ibn Sina, mabna Ibn Kholdun, selang beberapa bulan kemudian satu unit hunian berkapasitas 50 kamar untuk 300 orang santri dapat dibangun dan diberi nama al Farabi yang diresmikan penggunaannya oleh Wakil Presiden RI, Hamzah Haz dan didampingi oleh Wakil Presiden I Republik Sudan saat meresmikan alih status STAIN Malang menjadi Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS).

Semua unit hunian ma’had tersebut sekarang dihuni khusus untuk santri putra, sementara untuk santri putri sekarang menempati 4 (empat) unit hunian baru yang dibangun sejak tahun 2006 dan telah selesai pembangunannya, 2 (dua) unit diantaranya bernama mabna Ummu Salamah dan mabna Asma b.Abi Bakr, berkapasitas 64 kamar, masing-masing untuk 512 orang. 1 (satu) unit bernama mabna Fatima al Zahra berkapasitas 60 kamar untuk 480 orang dan 1 (satu) unit bernama mabna Khadijah al Kubro berkapsitas 48 kamar untuk 348 orang.

Masing-masing kamar dari 4 (empat) unit hunian tersebut untuk kapasitas 8 (delapan) orang. Kedua unit hunian untuk santri putra dan untuk santri putri berada di lokasi terpisah dalam are kampus, semua unit hunian tersebut berkapasitas 425 kamar untuk 3022 orang santri.

Melengkapi nuansa religius dan kultur religiusitas muslim Jawa Timur, maka dibangunlah monumen (prasasti) yang sekaligus menggambarkan visi dan misi ma’had yang tertulis dalam bahasa Arab di depan pintu masuk area unit hunian untuk santri putra. Prasasti tersebut berbunyi:

(jadilah kamu orang-orang yang memiliki mata hati);

(jadilah kamu orang-orang yang memiliki kecerdasan);

(jadilah kamu orang-orang yang memiliki akal);

(dan berjuanglah untuk membela agama Allah dengan kesungguhan).

Selanjutnya, untuk mengenang jasa dan historisitas ulama pejuang Islam di Pulau Jawa, maka ditanam tanah yang diambil dari Wali Songo (Wali Sembilan: simbol perjuangan para ulama di Jawa) di sekeliling prasasti tersebut. Di samping itu dimaksudkan untuk menanamkan nilai historis perjuangan para ulama, sehingga para santri selalu mengingat urgensi perjuangan atau jihad li i’laai kalimatillah. Prasasti yang sama kemudian juga dibangun di depan pintu masuk area unti hunian putri dan di depan kantor rektorat.

Leave a Reply