MIU Login

Refleksi Milad ke-25 MSAA UIN Malang: Konsolidasi Nilai, Reaktualisasi Visi Keilmuan dan Spiritual

Malang — Dalam rangka memperingati Milad ke-25 Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly (MSAA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, telah diselenggarakan kegiatan refleksi pada Kamis, 16 April 2026, pukul 19.30–21.30 WIB, bertempat di Masjid At-Tarbiyah. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari rangkaian peringatan hari lahir MSAA yang secara historis diresmikan pada 17 April 2001.

Refleksi milad ini dikonseptualisasikan sebagai ruang kontemplatif-institusional yang tidak hanya berfungsi sebagai perayaan simbolik, tetapi juga sebagai medium rekonstruksi memori kolektif serta evaluasi atas trajektori perkembangan MSAA dalam menjalankan mandat pembinaan keagamaan di lingkungan UIN Malang.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran dewan pengasuh, murabbi dan murabbiah, serta seluruh musyrif dan musyrifah. Hadir pula Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag., serta tokoh sentral dalam sejarah institusi, yakni Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo, selaku founding father UIN Malang sekaligus inisiator pendirian Ma’had Al-Jami’ah di Perguruan Tinggi.

Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan kalam Ilahi, dilanjutkan dengan internalisasi nilai melalui lantunan Senandung MSAA dan Mars MSAA sebagai simbol identitas kelembagaan. Sambutan kemudian disampaikan oleh Mudir Ma’had Al-Jami’ah UIN Malang, Dr. Kyai Ahmad Izzuddin, M.HI.

Dalam pidatonya, beliau menegaskan bahwa capaian usia 25 tahun ini merepresentasikan fase kematangan institusional yang sarat dengan dinamika historis dan perjuangan kolektif. Sebagai pionir model ma’had di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), MSAA diharapkan terus mengokohkan posisinya sebagai basis pembinaan integratif antara spiritualitas, intelektualitas, dan kepemimpinan sosial.

Puncak acara diisi dengan refleksi mendalam oleh Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo yang menguraikan landasan filosofis pendirian MSAA dalam kerangka besar pembangunan universitas Islam. Beliau menegaskan bahwa eksistensi ma’had merupakan elemen esensial yang tidak dapat dipisahkan dari identitas universitas Islam.

Beliau memaparkan konsep Arkan al-Jami’ah (أركان الجامعة) yang terdiri atas sembilan pilar fundamental: (1) dosen, (2) masjid, (3) ma’had, (4) perpustakaan, (5) laboratorium, (6) pusat kajian ilmiah, (7) pusat pelayanan, (8) pusat pengembangan seni dan olahraga, serta (9) sumber pendanaan yang kuat dan berkelanjutan. Kesembilan pilar tersebut, menurut beliau, harus dibangun secara sistematis dan berjenjang sesuai dengan prioritas urgensinya.

Dalam penutup refleksinya, beliau menegaskan dimensi praksis dari keberhasilan institusi, yakni melalui internalisasi nilai-nilai ibadah, khususnya konsistensi dalam menjaga shalat lima waktu sebagai fondasi spiritual. Selain itu, beliau menekankan pentingnya konstruksi visi dan cita-cita besar sebagai driving force dalam keberlanjutan institusi, sebagaimana MSAA dapat bertahan dan berkembang selama seperempat abad berkat fondasi idealisme yang kuat sejak awal pendiriannya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi refleksi historis, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat komitmen kelembagaan dalam melanjutkan transformasi MSAA sebagai pusat pembinaan keislaman yang adaptif, progresif, dan berdaya saing global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait