{"id":5077,"date":"2019-12-20T09:13:46","date_gmt":"2019-12-20T02:13:46","guid":{"rendered":"http:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/?p=5077"},"modified":"2019-12-20T09:13:46","modified_gmt":"2019-12-20T02:13:46","slug":"gadis-belia-dan-sapi-hamil-humor-syekh-juha","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/gadis-belia-dan-sapi-hamil-humor-syekh-juha\/","title":{"rendered":"Gadis Belia dan Sapi Hamil; Humor Syekh Juha"},"content":{"rendered":"<p>Manusia\ndiciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai tabiat dan perilaku. Ada orang yang\nberwatak suka bercanda dan banyak tertawa. Ada juga yang berwatak sangat serius\ndan tidak suka bercanda. Di benak mereka terkadang terbesit anggapan bahwa\nhumor hanyalah guyonan belaka, tidak ada faidahnya. Namun tidak sedikit juga\norang yang menyukainya karena mampu membuat bahagia, senang, tertawa, bahkan\nmembuat terbebas dari beban pikiran. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\ndunia Islam, terdapat berbagai kisah canda dan humor. Namun ada seseorang yang\nkisahnya selalu menarik untuk didengar dan dibaca, sebab mengandung humor yang\nmemiliki nilai Islami di dalamnya. Dia adalah Syekh Juha. Tak jarang yang\nmengenalnya, bahkan mayoritas sejarawan Islam sangat sulit menelisik biografinya;\nkapan ia lahir, kapan ia wafat, siapa nama aslinya, dan berbagai pertanyaan\nyang timbul tentangnya. Di dalam berbagai literatur klasik disebutkan bahwa\nSyekh Juha bernama asli Nashruddin Juha al-Rumi. Dia adalah bangsawan Turki.\nKonon Syekh Juha adalah seorang tabi\u2019in, dibuktikan dengan riwayat Jalaluddin\nal-Suyuthi dalam tulisannya yang menyebutkan bahwa ibunya adalah pembantu ibu\nAnas bin Malik. Menurut al-Suyuthi, Syekh Juha terkenal dengan sifat toleran.\nRiwayat ini dinukil dan ditulis dalam sebuah kitab berjudul <em>Nawadir Juha\nal-Kubra<\/em> pada bagian <em>muqaddimah<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada\nkitab <em>Nawadir Juha al-Kubra <\/em>di halaman 120,ada sebuah kisah yang\nmenggelitik, mengisahkan tentang wanita dan sapi hamil. <\/p>\n\n\n\n<p>Suatu\nhari, Nashruddin Juha pergi ke pasar untuk menjual sapinya. Namun tak ada\nseorangpun berniat membelinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Tiba-tiba,\nsalah seorang temannya -berprofesi sebagai makelar- melihatnya dan bertanya\nkepadanya: \u201c<em>Mengapa sapimu belum juga laku-laku hingga sekarang?<\/em>\u201d Syekh\nJuha menjawab: \u201c<em>Ya, aku sudah membawanya kesana-kemari sedari pagi, namun\nbelum juga ada orang yang menawarnya.<\/em>\u201d Lalu temannya berkata: \u201c<em>Bawalah\nkesini sapimu&#8230;. Biar aku yang membawanya dan menawarkannya ke banyak orang.<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Orang\nitu lalu menawarkannya pada orang lain, sembari berkata: \u201c<em>Sapi ini masih\nperawan dan bunting enam bulan&#8230;.<\/em>\u201d Dengan cepat, para pembeli berdatangan\ndan akhirnya, sapi itu dibeli dengan harga yang lebih tinggi dari yang\ndiharapkan Syekh Juha sebelumnya. Lalu Syekh Juha berterima kasih kepadanya dan\npulang ke rumah dengan bahagia.<\/p>\n\n\n\n<p>Selang\nbeberapa hari, Syekh Juha dikunjungi beberapa ibu untuk melihat anak gadisnya.\nKarena itu, istrinya minta pada Syekh Juha agar sejenak masuk ke kamar. Tanpa\nbasa-basi, istrinya langsung menemui ibu-ibu tadi, memperlihatkan anak\ngadisnya, dan menunjukkan beberapa kelebihan serta kecantikan putrinya itu.\nTentu saja, dia melakukan hal ini agar mereka mau meminangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak\nlama kemudian, Syekh Juha memanggil istrinya dan berkata kepadanya: \u201c<em>Buka\nmulutmu dan ucapkan sebuah kalimat kepada mereka&#8230;. Aku sudah menemukan sebuah\ncara baru untuk membuat laris barang dagangan yang tak laku (anak gadisnya).<\/em>\u201d\nYa, cara itu akan Syekh Juha terapkan pada anak gadisnya agar orang-orang\nberdatangan untuk melamar putrinya itu. Istrinya lalu berkata pada dirinya\nsendiri: \u201c<em>Mungkin suamiku telah menemukan sebuah cara baru dan terbaik&#8230;.<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah\nistrinya menemui ibu-ibu tadi, anak gadisnya pun ikut keluar. Dia memberi\nhormat dan mencium tangan mereka dengan ramah. Setelah itu, istri Syekh Juha\nberkata: \u201c<em>Ibu-ibu yang mulia&#8230; Ada sepatah kata yang ingin disampaikan oleh\nSang Ayah gadis ini. Oleh karena itu, kami harap agar Anda sekalian menyimaknya\ndengan seksama.<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian\nSyekh Juha keluar dan berkata: \u201c<em>Wahai ibu-ibu yang mulia! Kami tidak akan\nberbicara panjang lebar. Kami hanya ingin menyampaikan sepatah kata yang sangat\nringkas; putriku ini masih perawan dan sedang hamil enam bulan. Jika kalian\ntidak percaya, kalian bisa membuktikannya sendiri. Jika benar-benar kalian tidak\nbisa menemukan seorang gadis seperti gadisku ini, maka kalian harus membayarku\ndengan mahar yang besar. Aku berikan hak khiyar kepadamu sampai tiga hari.\nSekian&#8230;<\/em>\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mendengar\nhal itu, mereka satu sama lain saling menatap, sembari bergegas pergi\nmeninggalkan rumah Syekh Juha tanpa sepatah katapun. Tak lama kemudian,\nistrinya marah dan berkata: \u201c<em>Kamu gila ya! Kamu kok bisa mengatakan\nperkataan keji itu di depan mereka?<\/em>\u201d Lalu Syekh Juha menjawab: \u201c<em>Wahai\nistriku! Demi Allah, aku tidak menjual sapi betinaku kemarin dengan harga yang\nfantastis tanpa perantara kata-kata ini, walaupun aku tidak mengetahuinya sama\nsekali. Sabarlah wahai istriku! Ketahuilah, mereka pasti akan mencari di daerah\nmanapun seorang gadis yang mempunyai karakteristik seperti gadis kita. Tentunya\nmereka tidak akan menemukannya dan kita telah menjanjikan kepada mereka untuk\nmemberi mahar yang besar (jika mereka tidak menemukannya) sebagaimana kita\nmenjual sapi betina kita dengan harga yang mahal.<\/em>\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nperspektif <em>fiqh mu\u2019amalah, <\/em>kisah diatas menunjukkan jual beli yang tidak\nberoleh barakah. Sebab jarang sekali ditemukan nilai kejujuran dalam <em>mu\u2019amalah<\/em>,\nmelainkan nilai tipu daya yang telah menjadi suatu kelaziman. Padahal, nilai\nkejujuran merupakan sesuatu yang teramat mahal harganya, sebab jarang sekali\ndidapati pedagang yang jujur dalam pasar. Menurut orang-orang yang materialis\n-yang suka berburu keuntungan dunia- bahwa kejujuran hampir identik dengan\nkerugian. Yang dimaksud disini bukanlah rugi sebab dagangannya habis, melainkan\nrugi sebab untungnya sedikit atau tak seberapa. Sementara teori mereka adalah\nmengeluarkan biaya sekecil mungkin untuk mendapatkan pemasukan yang besar.\nSehingga mereka menargetkan keuntungan yang berlipat. Akibatnya, segala cara\ndilakukannya untuk melariskan dagangan, walaupun prakteknya jelas-jelas\ndiharamkan oleh Allah SWT. Larangan berdusta dalam jual beli itu terdapat dalam\n<em>Shahih al-Bukhari<\/em> disebutkan:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0628\u0652\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650\n\u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0627\u0631\u0650\u062b\u0650 \u0631\u064e\u0641\u064e\u0639\u064e\u0647\u064f \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u062d\u064e\u0643\u0650\u064a\u0652\u0645\u0650 \u0628\u0652\u0646\u0650 \u062c\u0650\u0632\u064e\u0627\u0645\u064d \u0631\u064e\u0636\u0650\u064a\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e:\n\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0635\u064e\u0644\u064e\u0651\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u064e\u0651\u0645\u064e: \u0627\u0652\u0644\u0628\u064e\u064a\u0650\u0651\u0639\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0628\u0627\u0650\u0644\u0652\u062e\u0650\u064a\u064e\u0627\u0631\u0650\n\u0645\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u062a\u064e\u0641\u064e\u0631\u064e\u0651\u0642\u064e\u0627, \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0628\u064e\u064a\u064e\u0651\u0646\u064e\u0627 \u0628\u064f\u0648\u0652\u0631\u0650\u0643\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a \u0628\u064e\u064a\u0652\u0639\u0650\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627,\n\u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064e\u062a\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0643\u064e\u0630\u064e\u0628\u064e\u0627 \u0645\u064f\u062d\u0650\u0642\u064e\u062a\u0652 \u0628\u064e\u0631\u064e\u0643\u064e\u0629\u064f \u0628\u064e\u064a\u0652\u0639\u0650\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627 <strong>(\u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u0628\u062e\u0627\u0631\u064a)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cDari Abdullah bin al-Harits yang dinisbatkan kepada Hakim bin\nHizam ra, berkata: Rasulullah saw bersabda: Dua orang yang melakukan jual beli\nboleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan transaksi\njual beli) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menampakkan\ndagangannya terus terang, maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Tapi jika\nkeduanya menyembunyikan fakta dan berdusta, maka musnahlah keberkahan jual beli\npadanya.\u201d <\/em><strong>(HR. Al-Bukhari No. 1275)<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ibn\nHajar al-Asqalani dalam kitabnya <em>Fath al-Bari <\/em>menjelaskan:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0648\u064e\u0642\u064e\u0648\u0652\u0644\u064f\u0647\u064f \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652\n\u062c\u064e\u0627\u0646\u0650\u0628\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0627\u0626\u0650\u0639\u0650 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0633\u064e\u0651\u0648\u0652\u0645\u0650 \u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652 \u062c\u064e\u0627\u0646\u0650\u0628\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0634\u0652\u062a\u064e\u0631\u0650\u0649 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u0641\u064e\u0627\u0621\u0650 \u0648\u064e\u0642\u064e\u0648\u0652\u0644\u064f\u0647\u064f\n\u0648\u064e\u0628\u064e\u064a\u064e\u0651\u0646\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u0652 \u0644\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u062b\u064e\u0651\u0645\u064e\u0646\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062b\u0652\u0645\u064e\u0646\u0650 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0639\u064e\u064a\u0652\u0628\u064d \u0641\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062c\u064e\u0627\u0646\u0650\u0628\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u064e\u0627\n\u0648\u064e\u0643\u064e\u0630\u064e\u0627 \u0646\u064e\u0642\u0652\u0635\u064f\u0647\u064f \u0648\u064e\u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u062f\u0650\u064a\u0652\u062b\u0650 \u062d\u064f\u0635\u064f\u0648\u0644\u064f \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0631\u064e\u0643\u064e\u0629\u0650 \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062d\u064e\u0635\u064e\u0644\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627\n\u0627\u0644\u0634\u064e\u0651\u0631\u0652\u0637\u064f \u0648\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0627\u0644\u0635\u0650\u0651\u062f\u0652\u0642\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u062a\u064e\u0651\u0628\u0652\u064a\u0650\u064a\u0646\u064f \u0648\u064e\u0645\u064f\u062d\u0652\u0642\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0648\u064f\u062c\u0650\u062f\u064e \u0636\u0650\u062f\u064f\u0651\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e\n\u0627\u0644\u0652\u0643\u0650\u0630\u0652\u0628\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u062a\u0652\u0645\u064f <\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cYang dimkasud \u2018keduanya jujur\u2019 adalah penjual jujur dalam\nmenawarkan harga dagangannya dan pembeli jujur dalam membayarnya. Yang dimaksud\n\u2018keduanya menampakkan secara terus terang\u2019 adalah menjelaskan aib, baik dalam\nalat tukar maupun komoditi. Begitu juga menjelaskan kekurangannya. Hadis\ntersebut menjelaskan bahwa barakah dalam jual beli itu bisa didapatkan jika\ntelah memenuhi syarat: adanya kejujuran dan keterus terangan. Sementara\nmusnahnya barakah itu jika didapati lawan syarat tersebut: penyembuian fakta\ndan dusta.\u201d <\/em><strong>(Fath al-Bari, 4\/311).\n<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Para\npembaca yang budiman! Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di seluruh dunia.\nNilainya tetap dan tidak pernah fluktuatif. Gunakanlah dalam setiap transaksi\nkehidupan, agar anda mendapatkan <em>point reward <\/em>&nbsp;berupa kepercayaan dan keberkahan. <strong>(Muhammad\nFashihuddin)<\/strong><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai tabiat dan perilaku. Ada orang yang berwatak suka bercanda dan banyak tertawa. Ada juga yang berwatak sangat serius dan tidak suka bercanda. Di benak mereka terkadang terbesit anggapan bahwa humor hanyalah guyonan belaka, tidak ada faidahnya. Namun tidak sedikit juga orang yang menyukainya karena mampu membuat bahagia, senang, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-5077","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5077"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5077\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}