MIU Login

Hari Kedua SPMM 2025: Musyrif-Musyrifah Diperkuat dengan Metode Pendampingan Humanistik

Pusat Ma’had al-Jami’ah kembali melanjutkan rangkaian kegiatan Sosialisasi Pendampingan Musyrif-Musyrifah bagi Mahasantri (SPMM) 2025 pada hari Rabu, 30 Juli 2025. Kegiatan ini berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB bertempat di Aula Gedung Rektorat Lantai 5. Seluruh musyrif dan musyrifah mengikuti kegiatan dengan antusias, melanjutkan semangat yang telah dibangun pada hari pertama sosialisasi. Pada kesempatan kali ini, fokus utama diarahkan pada penguatan metode dan pendekatan pendampingan yang lebih humanistik, adaptif, dan komunikatif. Hal ini sejalan dengan komitmen Ma’had al-Jami’ah dalam membentuk musyrif-musyrifah yang profesional dan mampu menjalankan fungsi bimbingan secara menyeluruh.

Rangkaian hari kedua diisi dengan empat materi utama yang disampaikan oleh para pemateri kompeten di bidangnya. Materi pertama bertajuk “Manajemen Pendampingan Berbasis CMC (Counseling, Mentoring, Coaching)” disampaikan oleh Dr. Ilhamuddin Nukman, S.Psi., M.A. Materi ini tidak hanya menekankan pentingnya tiga aspek utama dalam relasi pendampingan, tetapi juga memberikan contoh konkret penerapannya dalam lingkungan pesantren mahasiswa. Dengan durasi yang lebih panjang, sesi ini menjadi yang paling interaktif, karena diselingi dengan ice breaking, seperti sesi saling pijat antarteman dan penyemangat khas dari pemateri. Jargon “Musyrif-Musyrifah… Uwik!” yang diciptakan pemateri berhasil mencairkan suasana dan meningkatkan antusiasme peserta yang sempat menurun akibat panjangnya sesi.

Setelah sesi pagi yang padat, acara dilanjutkan pasca ishoma dengan materi kedua bertema “Pendampingan dengan Bahasa Cinta” oleh Rika Fuaturosida, M.Si. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya pendekatan kasih sayang dalam interaksi pendampingan. Rika menekankan bahwa bahasa cinta adalah salah satu kunci utama untuk membangun kepercayaan dan keterbukaan antara musyrif-musyrifah dan mahasantri. Materi ini menegaskan bahwa pendekatan yang empatik dan penuh perhatian tidak hanya meningkatkan kualitas komunikasi, tetapi juga berdampak pada keberhasilan pembinaan karakter. Sesi ini berjalan hangat dan memberi wawasan baru tentang pentingnya nilai-nilai afektif dalam kepemimpinan informal.

Kegiatan berlanjut ke materi ketiga bertajuk “Mitigasi Kekerasan Seksual” yang dibawakan oleh Dr. Hj. Isti’adah, M.A., dari PSGA UIN Malang. Sesi ini menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian hari kedua karena membahas isu yang sangat relevan dengan situasi sosial mahasiswa saat ini. Pemateri mengupas bentuk-bentuk kekerasan seksual, strategi pencegahan, serta langkah-langkah penanganan sesuai regulasi kampus. Antusiasme peserta meningkat secara signifikan selama sesi ini, yang ditandai dengan munculnya berbagai pertanyaan dan respon aktif dari peserta. Sesi ini sekaligus menunjukkan keseriusan Ma’had al-Jami’ah dalam membekali pendamping dengan wawasan kritis dan kesadaran kekerasan seksual yang tinggi.

Sebagai penutup, peserta mengikuti materi “Pelatihan Public Speaking” bersama Faridatun Nikmah, M.Pd., yang berlangsung dari pukul 14.30 hingga 16.00 WIB. Dalam sesi ini, para musyrif dan musyrifah dilatih untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dengan percaya diri, sistematis, dan inspiratif. Public speaking dianggap sebagai keterampilan wajib yang harus dimiliki oleh setiap pendamping, karena peran mereka menuntut kemampuan menyampaikan arahan dan motivasi secara efektif. Melalui simulasi dan praktik ringan, peserta mendapatkan tips praktis untuk mengelola gestur, intonasi, dan struktur pesan dalam menyampaikan materi. Materi ini sekaligus menjadi bekal penting dalam menyampaikan pesan-pesan pembinaan yang membangun dan menggugah.

Secara umum, hari kedua sosialisasi SPMM 2025 berjalan lancar dan memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta mengenai peran strategis mereka. Tujuan utama kegiatan ini tetap konsisten, yaitu membekali para musyrif-musyrifah dengan kompetensi mendalam sesuai dengan SOP Pendampingan Humanistik yang berlaku di lingkungan Ma’had al-Jami’ah. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai metode pendampingan, diharapkan para peserta mampu melaksanakan tugasnya tidak sekadar sebagai pengawas, tetapi sebagai figur pendidik, teman, sekaligus inspirator bagi mahasantri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait