{"id":8721,"date":"2025-09-26T00:29:43","date_gmt":"2025-09-26T00:29:43","guid":{"rendered":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/?p=8721"},"modified":"2025-09-26T00:29:43","modified_gmt":"2025-09-26T00:29:43","slug":"uin-malang-teguhkan-peran-strategis-hadapi-tantangan-kebangsaan-di-era-vuca","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/uin-malang-teguhkan-peran-strategis-hadapi-tantangan-kebangsaan-di-era-vuca\/","title":{"rendered":"UIN Malang Teguhkan Peran Strategis Hadapi Tantangan Kebangsaan di Era VUCA"},"content":{"rendered":"<p><strong>Malang<\/strong> \u2013 Auditorium Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (22\/9\/2025) pagi, dipenuhi antusiasme mahasiswa baru. Sebanyak 100 mahasiswa mengikuti Seminar Nasional bertajuk <em>\u201cPeran dan Tantangan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam Mewujudkan Masyarakat Rukun, Maslahah, dan Cerdas.\u201d<\/em> Acara yang diselenggarakan Pusat Ma\u2019had al-Jami\u2019ah ini menghadirkan Prof. Dr. Asep Sunandar, S.Pd., M.AP., Asisten Deputi Bina Keagamaan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) sebagai narasumber utama.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sambutannya, Mudir Pusat Ma\u2019had al-Jami\u2019ah, Dr. Ahmad Izzuddin, M.HI., menekankan pentingnya peran strategis UIN Malang dalam mencetak generasi unggul. \u201cMahasiswa hari ini adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Mereka bukan hanya harus cerdas secara akademik, tetapi juga intelek, visioner, dan berkeadaban. Seminar ini kami harapkan dapat menjadi ruang pembentukan pola pikir generasi bangsa yang tangguh menghadapi perubahan zaman,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" data-id=\"8722\" src=\"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-1-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8722\" srcset=\"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-1-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-1-300x169.jpg 300w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-1-768x432.jpg 768w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-1-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-1-2048x1152.jpg 2048w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-1-18x10.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tantangan VUCA dan Ancaman Polarisasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Asep Sunandar dalam paparannya menyoroti fenomena global yang sering dirangkum dalam istilah <strong>VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)<\/strong>. Menurutnya, masyarakat saat ini menghadapi eskalasi perubahan yang sangat cepat dan sulit diprediksi. \u201cKita dihadapkan pada realitas hiper, di mana fakta bercampur dengan informasi palsu. Kondisi ini membuat masyarakat mudah terprovokasi, terpolarisasi, dan terseret dalam konflik yang tidak produktif,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menambahkan, globalisasi dan interaksi lintas budaya serta ideologi transnasional membawa nilai-nilai baru yang berpotensi melemahkan ideologi Pancasila. \u201cAkibatnya, ketahanan budaya bangsa terganggu. Radikalisme dan terorisme bisa tumbuh subur jika ruang moderasi beragama tidak kita jaga,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, perkembangan teknologi digital mengubah peradaban masyarakat secara drastis. \u201cLogika kapitalisme internet kini mendominasi berbagai aspek kehidupan. Internet of things, kecerdasan buatan, dan algoritma media sosial bukan hanya mengatur pola konsumsi, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif masyarakat. Inilah yang saya sebut sebagai fenomena abad kreatif, yang bisa menjadi peluang sekaligus ancaman,\u201d paparnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Prof. Asep juga mengingatkan adanya kerawanan sosial yang dapat muncul akibat perbedaan latar belakang budaya, kepentingan politik, dan perubahan sosial yang cepat. \u201cKonflik horizontal maupun vertikal bisa terjadi kapan saja. Maka pendidikan tinggi, termasuk UIN Malang, punya tanggung jawab moral untuk memperkuat ketahanan sosial bangsa,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Posisi Strategis UIN Malang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Prof. Asep, pendidikan tinggi keagamaan memiliki posisi sangat penting dalam menghadapi era <em>Indonesia Emas 2045.<\/em> UIN Malang, kata dia, tidak hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai benteng moralitas, spiritualitas, dan kebangsaan. \u201cPerguruan tinggi keagamaan seperti UIN Malang harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai pluralisme, kebhinekaan, dan moderasi beragama. Inilah yang akan menjaga bangsa dari fragmentasi sosial yang membahayakan persatuan,\u201d ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menilai UIN Malang memiliki modal kuat karena dikenal sebagai <em>Kampus Ulul Albab<\/em>, yang mengintegrasikan ilmu agama, sains, dan teknologi. \u201cModel pendidikan ini menjadikan UIN Malang sebagai role model bagi PTKIN lain. Integrasi keilmuan ini penting untuk membekali mahasiswa menghadapi tantangan abad 21 yang serba kompleks,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Arah Kebijakan Pendidikan Tinggi Keagamaan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, Prof. Asep menjelaskan arah kebijakan yang perlu ditempuh perguruan tinggi keagamaan untuk menjawab tantangan tersebut. Pertama, <strong>penguatan kurikulum berbasis kontekstual<\/strong>. Menurutnya, kurikulum harus adaptif dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan basis teologis. \u201cIntegrasi dengan filsafat, sosiologi, hingga teknologi sangat penting agar mahasiswa tidak tercerabut dari konteks zaman,\u201d ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, <strong>penguatan literasi digital dan teknologi.<\/strong> UIN Malang didorong untuk mengembangkan platform e-learning dan digital library agar mahasiswa dan dosen lebih mudah mengakses pengetahuan. \u201cTanpa literasi digital, kita akan tertinggal dalam persaingan global. Mahasiswa harus mampu menjadi produsen pengetahuan, bukan hanya konsumen,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga, <strong>peningkatan kolaborasi dan kemitraan.<\/strong> Perguruan tinggi keagamaan harus aktif menjalin kerja sama dengan kampus dalam dan luar negeri, serta lembaga masyarakat. \u201cUIN Malang bisa menjadi motor dalam jejaring akademik internasional sekaligus menjalin kemitraan dengan komunitas lokal, sehingga ilmu teologi benar-benar membumi,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keempat, <strong>revitalisasi nilai kebangsaan dan moderasi beragama.<\/strong> Prof. Asep menekankan perlunya pendidikan agama yang inklusif dan kontekstual. \u201cModerasi beragama bukan sekadar jargon. Ini adalah kebutuhan riil bangsa. UIN Malang punya tanggung jawab untuk mengajarkan Islam yang rahmatan lil \u2018alamin, yang mampu melahirkan masyarakat harmonis,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-28f84493 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:50%\">\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" data-id=\"8724\" src=\"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-3-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8724\" srcset=\"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-3-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-3-300x169.jpg 300w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-3-768x432.jpg 768w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-3-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-3-2048x1152.jpg 2048w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-3-18x10.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\" style=\"flex-basis:50%\">\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" data-id=\"8725\" src=\"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-2-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-8725\" srcset=\"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-2-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-2-300x169.jpg 300w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-2-768x432.jpg 768w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-2-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-2-2048x1152.jpg 2048w, https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Doc-2-18x10.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p><strong>Menjawab Tantangan Zaman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konteks eksternal memperlihatkan betapa relevannya pesan yang disampaikan dalam seminar ini. Kehadiran media sosial dan arus informasi digital yang masif telah melahirkan fenomena <em>echo chamber<\/em> dan polarisasi opini. Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa baru UIN Malang, hal ini bisa menjadi jebakan yang menggerus daya kritis.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hal ini, UIN Malang dituntut untuk lebih proaktif. Program moderasi beragama yang sudah lama digalakkan perlu dipadukan dengan literasi digital dan penguatan riset sosial. Pendekatan multidisiplin, sebagaimana ditekankan Prof. Asep, dapat menjadi jawaban atas problem radikalisme digital dan kerentanan sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai kampus yang mengusung integrasi sains dan agama, UIN Malang memiliki keunggulan unik. Kampus ini bisa melahirkan sarjana yang bukan hanya ahli dalam bidang keilmuan, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan spiritualitas tinggi. Dengan demikian, peran UIN Malang bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga mencetak agen perubahan sosial yang mampu menjadi jembatan di tengah polarisasi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penutup<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Seminar Nasional di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan penegasan peran institusional kampus dalam percaturan kebangsaan. Pesan yang berulang kali ditegaskan adalah bahwa UIN Malang harus menjadi garda depan dalam membangun masyarakat yang rukun, maslahah, dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan tantangan era VUCA, globalisasi, dan digitalisasi, UIN Malang diharapkan mampu berdiri sebagai institusi yang tidak hanya kuat dalam basis keilmuan, tetapi juga tangguh dalam menjaga moralitas dan kebangsaan. Jalan menuju Indonesia Emas 2045 masih panjang, namun peran kampus keagamaan seperti UIN Malang akan sangat menentukan arah perjalanan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malang \u2013 Auditorium Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (22\/9\/2025) pagi, dipenuhi antusiasme mahasiswa baru. Sebanyak 100 mahasiswa mengikuti Seminar Nasional bertajuk \u201cPeran dan Tantangan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam Mewujudkan Masyarakat Rukun, Maslahah, dan Cerdas.\u201d Acara yang diselenggarakan Pusat Ma\u2019had al-Jami\u2019ah ini menghadirkan Prof. Dr. Asep [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":8723,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[13,14],"tags":[],"class_list":["post-8721","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-informasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8721","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8721"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8721\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8726,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8721\/revisions\/8726"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8723"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8721"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8721"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/msaa.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8721"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}