MIU Login

Kompilasi Qaul Daif Di Matan Abi Syuja’

Oleh: Ahmad Hidhir Adib Amin Al-Samudi

Dengan menyebut nama Allah Swt yang maha pengasih di dunia dandi akhiratSegala puji bagi Allah Swt, yang menuhani seluruh alam semesta. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat dan para ummatnya. Amma ba’du.

            Sebagaimana jamak diketahui, matan Taqrib merupakan kitab pengantar fikih Syafi’i yang paling populer. Anggitan Imam Abu Syuja’[1] ini memiliki banyak nama,[2] sehingga judul anotasinya beragam dan bahkan ganda. Sebutlah semisal anotasinya yang paling populer di tradisi kepesantrenan, yakni Fath Al-Qarib Al-Mujib Fi Syarh Alfadz Al-Taqrib. Oleh Ibn Qasim Al-Ghazi diberi judul lain, yaitu Al-Qaul Al-Mukhtar Fi Syarh Ghayat Al-Ikhtishar. Hal ini dikarenakan beda-bedanya judul yang ada di berbagai naskah, faktor inilah yang membuat para komentatornya seringkali menyelipkan disclaimer “di sebagian naskah menggunakan teks ini”. Hal demikian dikarenakan proses penulisan matan Taqrib atau Ghayat Al-Ikhtishar ini melalui pendiktean, sehingga menyebabkan banyaknya perbedaan diksi dan judul.

            Matan Abi Syuja’ sendiri merupakan literatur pra eranya Syaikhan, sehingga pendapat di sana belum resmi sebagai pandangan Mazhab Syafi’i. Misalnya dalam kasus menyendirikan shalawat atau salam yang mana ini diperbolehkan oleh Mutaqaddimin (ulama pra abad 5 H), ini dikomentari oleh Imam Al-Baijuri;

ولم يأت المصنّف بالسلام لكونه من المتقدمين الّذين لا يرون كراهة الافراد. –إلى أن قال- وقد أتى الشارح بالسلام لكونه من المتأخرين.[3] {حاشية البيجوري على شرح ابن قاسم الغزالي} (1\ 15)

            Dari keterangan Al-Baijuri bisa ditarik kesimpulan bahwa karena Abi Syuja’ merupakan generasi Mutaqaddimin Mazhab Syafi’i, maka pendapatnya bisa saja direvisi oleh Syaikhan sebagai mujtahid tarjih mazhab (pematen pendapat resmi mazhab). Dalam kasus tersebut, Muta’akhhirin (ulama abad 5 H) memakruhkan menyendirikan bacaan shalawat salam kecuali yang ma’tsur (diajarkan langsung oleh Nabi Saw). Secara faktual, hal ini terepresentasikan dalam teks Al-Baijuri di atas. Pengarang matan yang merupakan Mutaqaddimin menyendirikan bacaan shalawat salam, sedang komentatornya (anotasinya Ibn Qasim Al-Ghazi) menambahi teks


[1] Biografinya diperselisihkan, silahkan baca prolog Hasyiyah Al-Baijuri cetakan Dar Al-Minhaj atau makalahnya Syekh Abdul Karim Al-Anis Al-Azhari yang berjudul “man muallif kitab Al-Ghayah wa Al-Taqrib”.

[2] Dalam tradisi Arab, sesuatu yang mulia memiliki banyak nama. Hanya saja, ini adalah kaedah umum. Sebab bisa saja yang terjadi adalah sebaliknya, seperti banyaknya nama haid adalah untuk menunjukkan ketidakmuliaannya. (lihat Hasyiyah Al-Baijuri pada awal pembahasan bab Haid).

[3] قال الكياهي سهل محفوظ الحاجني في ضابط المتقدمين والمتأخرين: {المتقدمون والأصحاب ذوو أربعة القرون وأهلها أي الأربعمائة}.

ي بط المتقدمين والمتأخرين: ebasاهـ الثمرات الحاجنية (ص؛ ١٨)


tersebut, dan Al-Baijuri sebagai Muhasyyi mendudukkan kasus tersebut secara proporsional.[1]

            Secara lebih lugas, Ibn Hajar Al-haitami melarang untuk menukil literatur pra Syaikhan, kecuali jika sudah dipastikan bahwa itu adalah pendapat resmi Mazhab.[2] Dengan fakta tersebut, seyogyanya memfilter pendapat yang ada di pra eranya Syaikhan.

            Walhamdulillah, saya selaku muallim afkar di kelas Mutawassith A Mabna Al-Khawrizmi sangat mengapresiasi dengan dipublikasikannya terjemahan dan syarah pada Nazam Al-Masail Al-Daifah Fi Matn Abi Syuja’ karya Dr. Ali bin Ismail Al-Qudaimi. Sebab dengan ini kita bisa mengkroscek langsung terkait kaul daif, sehingga kita bisa mensensornya.

Kaul daif di matan Abi Syuja’ sendiri mencapai 27 kasus, dan yang paling urgent untuk diketahui adalah dalam bab Haji. Sebab kaitannya langsung dengan keabsahan hajinya, contoh konkretnya adalah bahwa Abu Syuja’ menstatusi halqu sebagai wajib haji dan mabit adalah sunnahnya. Pendapat ini menyalahi pendapat resmi mazhab, sebab halqu adalah rukunnya haji dan mabit adalah wajib haji. Sehingga ada implikasi hukum yang sangat berbeda, misalnya seseorang mengikuti Abu Syuja’ yang berpendapat sebagai sunnah haji, maka secara kaedah mazhab dia harus membayar dam dikarenakan mabit adalah wajibnya haji.

Wal Hasil, karya semacam ini sangat penting, sebab matan Abi Syuja’ merupakan kitab yang paling populer di pesantren. Sebab menurut reportase Martin Van Bruinessen, matan tersebut masuk pada kategori tertinggi penggunannya. Menurut Martin, elit agama di Jawa bukan hanya mengkajinya, bahkan juga mengkhidmahinya. Ia mereportasekan bahwa pada tahun 1600-an, terjemahan (dengan bahasa Jawa) matan Abu Syuja’ banyak yang dibawa ke Eropa.[3]

            Akhir kata, semoga usaha para Mahasantri ini diridai oleh Allah Swt dan bisa memudahkan para pengkaji Mazhab Syafi’i. Amin ya rabb.


[1] Tradisi keislaman –khususnya fikih- memiliki hirarki dalam literaturnya, yakni dimulai dari Matan, Syarah, Hasyiyah dan Taqrir. Contohnya Taqrib disyarahi menjadi Fath Al-Qarib, lalu dihasyiyahi Al-Barmawi dan ditaqriri oleh Al-Imbabi. Contoh lain adalah Matan Qurrat Al-Ain, disyarahi sendiri menjadi Fath Al-Mu’in. Lalu dihasyiyahi menjadi Tarsyih Al-Mustafidin dan ditaqriri sendiri oleh Sayyid Alwi Al-Segaf.

[2] تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (1/ 39)

ومن جواز اعتماد المفتي ما يراه في كتاب معتمد فيه تفصيل لا بد منه، ودل عليه كلام المجموع وغيره وهو أن الكتب المتقدمة على الشيخين لا يعتمد شيء منها إلا بعد مزيد الفحص والتحري حتى يغلب على الظن أنه المذهب ولا يغتر بتتابع كتب متعددة على حكم واحد فإن هذه الكثرة قد تنتهي إلى واحد.

[3] Martin van Bruinessen Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat. (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012) H. 96 & 122

Kaul-Daif-di-Kitab-Taqrib 

اترك تعليقاً

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني. الحقول الإلزامية مشار إليها بـ *

Berita Terkait