Malang, 29 Agustus 2025 — Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan Daurah Ma’hadiyah bagi seluruh mahasantri baru Tahun Akademik 2025/2026. Acara yang berlangsung pada 25–27 dan 29 Agustus 2025 ini terlaksana secara serentak di tiga kampus UIN Malang, melibatkan Masjid At-Tarbiyah, Masjid Ulul Albab, Masjid Ali Ash-Shobuni, serta Islamic Tutorial Center (ITC). Mengusung tema “Mengokohkan Karakter Islami dan Semangat Keilmuan Mahasantri Baru”, kegiatan ini dirancang sebagai forum pembinaan awal untuk memperkuat pondasi spiritual, akademik, dan sosial mahasantri. Dengan suasana yang khidmat dan partisipatif, kegiatan berlangsung lancar dan tertib, menghadirkan dialog interaktif antara narasumber dan peserta.
Materi pertama yang disajikan adalah tentang kesehatan fisik, mental, dan jiwa. Beberapa narasumber seperti dr. Christyaji, Sp.Em., Muhammad Arif Furqon, M.Psi., serta Fuji Astutik, M.Psi., Psikolog, memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan pola hidup sehat. Mereka menekankan bahaya stres akademik, gangguan tidur, serta fenomena burnout yang kerap dialami mahasiswa di tahun-tahun awal perkuliahan. Dalam sesi ini, mahasantri diajak untuk mengenali gejala stres, menerapkan pola makan sehat, serta menjaga kebugaran melalui olahraga teratur. Diskusi juga menyinggung peran konseling sebagai ruang aman bagi mahasiswa untuk berbagi persoalan psikis dan emosional.



Selanjutnya, materi kedua mengenai literasi digital dan modus kejahatan berbasis multimedia turut menjadi sorotan penting. Narasumber seperti Ahmad Fahmi Karami, M.Kom., Dr. M. Ainul Yaqin, M.Kom., Dr. Fachrul Kurniawan, M.MT., serta Supriyono, M.Kom., menjelaskan betapa derasnya arus informasi digital dapat menjadi peluang sekaligus ancaman. Mahasantri dibekali kemampuan untuk mengenali hoaks, phishing, hingga penipuan beasiswa dan lowongan kerja palsu yang marak menargetkan generasi muda. Tidak hanya itu, diskusi juga mengupas bahaya kecanduan media sosial dan game online yang berdampak pada kesehatan mental dan akademik. Dengan simulasi kasus nyata, para peserta diajak menganalisis situasi penipuan digital dan menyusun langkah pencegahan secara kolektif.




Materi ketiga yang tak kalah penting adalah pencegahan kekerasan dan penyimpangan seksual serta bahaya seks scam. Narasumber seperti Aprilia Mega Rosdiana, M.Psi., Dr. Isti’adah, MA., Dr. Dwi Sulistiani, MSA, Ak., CA., dan Imam Sukadi, S.H., M.H. memaparkan berbagai bentuk kekerasan seksual yang kerap tersembunyi di lingkungan kampus. Mereka mengajak mahasantri untuk memahami pentingnya konsep consent (persetujuan) dalam setiap relasi sosial serta memberikan edukasi terkait perlindungan diri dari fenomena seks scam yang marak di era digital. Kasus nyata dan simulasi turut disajikan, sehingga mahasantri tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat mengidentifikasi potensi bahaya di sekitar mereka. Sesi ini diakhiri dengan penegasan bahwa lingkungan kampus harus menjadi ruang aman, bebas dari pelecehan, diskriminasi, dan kekerasan.



Materi keempat adalah tentang moderasi beragama, yang disampaikan oleh Dr. Ahmad Izzuddin, M.HI., dan Dr. Iffat Maimunah, S.S., M.Pd. Materi ini menekankan pentingnya menjaga sikap wasathiyah (tengah-tengah) dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama. Narasumber mengingatkan bahaya sikap intoleran, ujaran kebencian, serta eksklusivisme kelompok keagamaan yang dapat memecah belah persaudaraan di kampus maupun masyarakat. Dengan pendekatan dialogis, peserta diajak untuk membangun kesadaran bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman. Refleksi bersama di akhir sesi menghasilkan komitmen mahasantri untuk senantiasa menjunjung nilai toleransi, menghargai perbedaan, dan menjaga harmoni sosial.




Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini diakhiri dengan sesi refleksi bersama yang dipandu moderator di masing-masing lokasi. Para peserta merumuskan poin-poin penting dari setiap materi, sekaligus menegaskan komitmen untuk mengimplementasikan nilai-nilai yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Ketua Pusat Ma’had al-Jami’ah menyampaikan bahwa Daurah Ma’hadiyah menjadi bekal awal bagi mahasantri baru untuk menapaki perjalanan akademik dan spiritual dengan penuh kesiapan. Dengan semangat ini, diharapkan para mahasantri dapat tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan zaman dengan bijak dan bermartabat.




