Malang – Pusat Ma’had al-Jami’ah menyelenggarakan kegiatan pengayaan bagi para musyrif-musyrifah. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu malam (6/8), dimulai setelah shalat Maghrib dan berakhir menjelang shalat Isya, yakni sekitar pukul 18.00 hingga 19.00 WIB. Program ini merupakan salah satu bentuk pembekalan lanjutan yang diberikan kepada para musyrif-musyrifah. Fokus materi kali ini adalah seputar thaharah, yang merupakan fondasi penting dalam praktik ibadah sehari-hari.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara serentak di tiga lokasi berbeda berdasarkan pembagian wilayah kampus. Musyrif-musyrifah Kampus 1 bertempat di Masjid At-Tarbiyah, sementara musyrif-musyrifah dari Kampus 2 mendapatkan pembekalan di Masjid Ali Ash-Shobuni. Adapun musyrif-musyrifah dari Kampus 3 mengikuti kegiatan di Islamic Tutorial Center (ITC). Pembagian lokasi ini dimaksudkan agar pelaksanaan lebih kondusif dan tertib.


di Masjid Ali Ash-Shobuni

di Islamic Tutorial Center (ITC)
Materi pengayaan yang disampaikan meliputi tiga pokok bahasan utama yang berkaitan langsung dengan kebersihan dan kesucian dalam Islam. Ketiga materi tersebut adalah tata cara istinja’ yang benar, prosedur bersuci melalui wudlu dan mandi janabah, serta cara-cara mensucikan najis dalam berbagai kondisi. Setiap topik dibahas secara rinci dan aplikatif untuk memastikan pemahaman yang utuh dan tepat. Materi ini dinilai penting karena menyangkut aspek dasar dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari di lingkungan Ma’had.
Setiap lokasi dihadiri oleh narasumber yang berbeda. Di Masjid At-Tarbiyah, kegiatan diampu oleh KH. Abdul Fattah, Lc., M.Th.I. Di Masjid Ali Ash-Shobuni, materi disampaikan oleh Kyai Abdul Hakim, S.Si., M.PI., M.Farm. Sementara itu, pengayaan di ITC dipandu oleh Kyai Muhammad Faruq, M.Pd.

KH. Abdul Fattah, Lc., M.Th.I.

Kyai Abdul Hakim, S.Si., M.PI., M.Farm.

Kyai Muhammad Faruq, M.Pd.
Kegiatan ini menjadi bagian integral dalam upaya peningkatan kapasitas keilmuan para musyrif-musyrifah, khususnya dalam aspek sosial-keagamaan. Bekal keilmuan seputar thaharah dipandang penting untuk menunjang profesionalisme mereka dalam mendampingi para mahasantri. Dengan pemahaman yang baik tentang kebersihan dan kesucian, para musyrif-musyrifah diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus rujukan dalam praktik ibadah yang baik dan benar.




